Tuesday, April 28, 2015

Bhisama PHDI Catur Warna (Penghapusan Kasta di Bali)

Lampiran
BHISAMA SABHA PANDITA PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA PUSAT
Nomor : 03/Bhisama /Sabha Pandita Parisada Pusat/X/2002
Tentang Pengamalan Catur Vama

PENGAMALAN CATUR VARNA

A. Latar Belakang.

Sudah merupakan pengertian umum babwa ajaran Catur Varna yang bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang terhimpun dalam kitab suci Veda dan kitab-kitab susastra Veda (Hindu) lainnya adalah ajaran yang sangat mulia. Namun dalam penerapannya terjadi penyimpangan penafsiran menjadi sistem Kasta di India dan sistem Wangsa di Indonesia (Bali) yang jauh berbeda dengan konsep Catur Varna. Penyimpangan ajaran Catur Varna yang sangat suci ini sangat meracuni perkembangan agama Hindu dalam menuntun umat Hindu selanjutnya. Banyak kasus yang ditimbulkan akibat penyimpangan itu yang dampaknya benar-benar merusak citra Agama Hindu sebagai agama sabda Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan agama tertua di dunia.

Perjuangan untuk mengembalikan kemurnian ajaran Catur Varna itu sudah banyak dilakukan oleh sebagian umat Hindu. Perjuangan itu dilakukan baik oleh para cendekiawan maupun lewat berbagai organisasi/lembaga keumatan Hindu. Meskipun sangat alot namun perjuangan untuk mengembalikan kebenaran ajaran Catur Varna itu sudah menampakkan hasilnya. Seperti dalain bidang pemerintahan, politik, ekonomi dan hukum semakin nampak adanya kesetaraan. Justru dalam bidang keagamaan dan sosial budaya seperti pergaulan dalam kemasyarakatan membeda-bedakan Wangsa atau Soroh itu masih sangat kuat. Dalam bahasa pergaulan sehari-hari sangat tampak adanya penggunaan sistem Wangsa yang salah itu, dipakai oleh umat Hindu. Demikian pula dalam bidang keagamaan dan adat istiadat membeda-bedakan Wangsa itu masih sangat kuat. Hal itu menjadi sumber konflik yang tiada putus-putusnya dalam kehidupan beragama umat Hindu di Indonesia (khususnya di Bali). Wacana dari berbagai kalangan umat Hindu semakin keras untuk kembali ke ajaran Catur Varna, oleh karena itu dalam Maha Sabha VIII Parisada Hindu Dharma Indonesia bulan September 2001 di Denpasar telah mengusulkan adanya penetapan Bhisama Tentang Catur Warna ini. Usulan itu didahului oleh berbagai seminar dan diskusi-diskusi. Seminar dan diskusi itu diadakan oleh Parisada maupun oleh Orinas dan lembaga-lembaga umat Hindu.

Hampir setiap seminar dan diskusi ada usulan untuk kembali kepada sistem Catur Varna dengan melepaskan dominasi sistem Wangsa. Tujuan ditetapkannya Bhisama Catur Varna untuk mengembalikan secara bertahap agar proses perubahan meninggalkan sistem Wangsa yang salah itu menuju pada sistem Catur Varna lebih cepat jalannya. Sistem Wangsa agar dipergunakan hanya untuk Pitra Puja dan untuk berbakti kepada leluhur dalam menumbuhkan rasa persaudaraan di intern wangsa itu sendiri. Sistem Wangsa hendaknya diarahkan untuk mengamalkan ajaran Hindu yang benar dalam kontek kesetaraan antar sesama manusia. Sistem Wangsa itu tidak dijadikan dasar dalam sistem pergaulan/adat-istiadat sehari-hari. Seperti sistem penghormatan dalam pergaulan sosial/adat-istiadat.

Menurut pandangan Hindu sesungguhnya semua umat manusia bersaudara dalam kesetaraan (Vasudeva kutum bakam). Demikian juga pandita dalam swadharmanya memimpin upacara tidak memandang dari asal usul Wangsa seseorang. Seorang setelah melaksanakan upacara Diksa menjadi pandita sudah lepas dari ikatan Wangsanya.

B. Pengertian dan Fungsi Ajaran Catur Varna Menurut Kitab Suci Veda

Tujuan hidup menurut ajaran Agama Hindu sebagaimana dinyatakan dalam kitab Brahma Purana 228.45.Dharma artha kama moksanam sarira sadanam, artinya: badan (Sarira: Sthula, Suksama dan Antakarana Sarira) hanya dapat dijadikan sarana untuk mencapai Dhanna, Artha, Kama dan Moksa. Inilah yang disebut Catur Purusha Artha atau empat tujuan hidup. Untuk mencapai empat tujuan hidup manusia itu harus dicapai secara bertahap. Dalam Agastya Parwa dinyatakan bahwa empat tujuan hidup itu dicapai secara bertahap menurut Catur Asrama. Tahap hidup Brahmacari diprioritaskan rnencapai Dharma, tahap hidup Grhastha diprioritaskan mencapai Artha dan Kama, sedangkan dalam tahap hidup Vanaprastha dan Sannyasa Asrama tujuan hidup diprioritaskan mencapai Moksa.

Untuk mewujudkan empat tujuan hidup dalam empat tahapan hidup (Catur Asrama) itu dibutuhkan empat jenis profesi yang disebut Catur Varna. Dalam kitab suci Yajurveda XXX.5 dinyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan empat profesi atas dasar bakat dan kemampuan seseorang. Brahmana Varna diciptakan untuk mengembangkan pengetahuan suci, Ksatriya untuk melindungi ciptaan-NYA, Vaisya untuk kemakmuran dan Sudra untuk pekerjaan jasmaniah. Dalam mantra Yajurveda XXX.11 dinyatakan Brahmana Varna diciptakan dari kepala Brahman, Ksatriya dari lengan Brahman,Vaisya dari perut-Nya dan Sudra dari kaki-Nya Brahman. Jadi semua Varna itu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keempat Varna ini memiliki kemuliaan yang setara. Hal ini dinyatakan dalam mantra Yajurveda XVIII.48 untuk memanjatkan puja kepada Tuhan Yang Maha Esa, Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra sama-sama diberikan kemuliaan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keempat Varna itu akan mulia kalau sudah mentaati swadharmanya masing-masing.

Dalam Bhagavadgita IV.13 dan XVIII.41 dengan sangat jelas dan tegas bahwa untuk menentukan Varna seseorang didasarkan pada Guna dan Karmanya. Guna artinya minat dan bakat sebagai landasan terbentuknya profesi seseorang. Jadinya yang menentukan " Varna" seseorang adalah profesinya bukan berdasark-an keturunannya. Sedangkan Karma artinya perbuatan dan pekerjaan. Seorang yang berbakat dan punya keakhlian (profesi) di bidang kerohanian dan pendidikan serta bekerja juga di bidang kerohanaian dan pendidikan itulah yang dapat disebut ber "varna" Brahmana. Demikian juga orang yang dapat disebut ber " varna" Ksatriya adalah orang yang berbakat dan punya keakhlian di bidang kepemimpinan dan pertahanan. Orang yang berbakat di bidang ekonomi dan bekerja juga dalam bidang ekonomi ialah yang dapat disebut Vaisya. Sedangkan orang yang hanya mampu bekeda hanya dengan menggunakan tenaga jasmaninya saja karena tidak memiliki kecerdasan disebut Sudra.

Menurut Manawa Dharmasastra X.4 dan Sarasamuscaya 55 hanya mereka yang tergolong Brahmana, Ksatriya dan Vaisya Varna saja yang boleh menjadi Dvijati (pandita). Sudra tidak diperkenankan menjadi Dvijati karena mereka dianggap hanya mampu bekerja dengan mengandalkan tenaga jasmaninya saja, tanpa memiliki kecerdasan. Dvijati harus memiliki kemampuan rohani dan daya nalar yang tinggi, oleh karenanya Swadharma seorang Dvijati adalah sebagai Adi Guru Loka atau Gurunya masyarakat. Namun untuk mendapatkan tuntunan kitab suci Veda semua Varna berhak dan boleh mempelajarinya termasuk Sudra Varna. Hal ini ditegaskan dengan jelas dan tegas dalam mantra Yajurveda ke XXV.2.

Vama seseorang tidak dilihat dari sudut keturunannya, misalnya kebrahmanaan seseorang bukan dilihat dari sudut ayah dan ibunya, meskipun ayah dan ibunya seorang pandita atau rsi yang tergolong ber "Varna" Brahmana, belum tentu keturunannya menjadi seorang Brahmana, seperti halnya Rawana, kakeknya, ayah dan ibunya, adalah rsi yang terpandang, namun Rawana bersifat raksasa. Prahlada di dalam kitab Bhagavata Purana disebut sebagal anak dari raksasa bemama Hiranya Kasipu, namun Prahlada adalah seorang Brahmana sangat taat beragama meskipun ia masih anak- anak. Varna seseorang tidak ditentukan oleh keturunannya ini dijelaskan dengan tegas dalam kitab Mahabharata XII. CCCXII,108 bahwa ke "Dvijati"an seseorang tidak ditentukan oleh ke "wangsa"annya (nayonih), yang menentukan adalah perbuatannya yang luhur dan pekerjaanya yang memberi bimbingan rohani kepada masyarakat.

C. Menegakkan sistem Catur Varna.

Untuk mengembalikan sistem Catur Varna dalam masyarakat Hindu di Indonesia haruslah ditempuh langkah-langklah sbb:

1. Umat Hindu harus diajak secara bersama-sama untuk menghilangkan adat-istiadat keagamaan Hindu yang bertentangan dengan ajaran Catur Varna, khususnya dan ajaran agama Hindu pada umumnya. Hal ini dilakukan melalui berbagai "metode pembinaan umat Hindu" yang telah ditetapkan dalam Pesamuan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia tahun 1988 di Denpasar yang terdiri dari : Dharma Wacana, Dharma Tula, Dharma Gita, Dharma Sadhana, Dharma Yatra dan Dharma Santi.
2. Dalam kehidupan beragama Hindu umat diajak untuk tidak membeda-bedakan pandita dari segi asal kewangsaannya. Seorang pandita dapat "muput" (memimpin) upacara yang dilaksanakan oleh umat tanpa memandang asal-usul keturunannya. Umat Hindu dididik dengan baik untuk tidak membeda-bedakan harkat dan martabat para pandita Hindu dari sudut asal " Wangsa"nya.
3. Dalam persembahyangan bersama saat "Nyiratang Tirtha" (memercikkan air suci) umat diajak untuk membiasakan menerima "Siratan Tirtha" (percikkan air suci) dari Pamangku atau Pinandita. Ada sementara umat menolak dipercikkan Tirtha oleh Pamangku pura bersangkutan. Hal itu umumnya karena menganggap Pemangku itu Wangsanya lebih rendah dari umat yang menolak dipercikan Tirtha itu. Sikap seperti itu jelas menggunakan sistem Wangsa yang melecehkan swadharma seorang Pemangku.
4. Sistem penghormatan tamu Upacara Yajna atau Atithi Yajna dalam suatu Upacara Yajna janganlah didasarkan pada sistem Wangsa, artinya jangan tamu dalam upacara yajna dari Wangsa tertentu saja mendapatkan penghormatan adat, bahkan kadang-kadang ada pejabat resmi yang patut mendapatkan pengerhonnatan yang sewajarnya, didudukkan ditempatkan yang kurang wajar dalam tata penghormatan itu.
5. Umat Hindu hendaknya diajak untuk melaksanakan upacara yajna pawiwahan yang benar, seperti kalau ada pria yang mengawini wanita yang berbeda wangsa pada saat upacara "Matur Piuning" di tempat pemujaan keluarga pihak wanita, seyogyanya kedua mempelai bersembahyang bersama.
6. Pandita seyogyanya tidak menolak untuk "Muput" upacara "Pawiwahan" (perkawinan) karena mempelal berbeda wangsa.
7. Dalam hal Upacara Manusa Yadnya "Mepandes" (Potong Gigi), orang tua sepatutnya tidak membeda-bedakan putra-putrinya yang disebabkan oleh perkawinan berbeda wangsa.
8. Tidak seyogyanya seseorang yang akan di-Dwijati / di-Abiseka kawin lagi hanya karena istrinya yang pertama dari wangsa yang berbeda.
9. Perkawinan yang disebut kawin nyerod harus dihapuskan
10. Upacara adat Patiwangi harus dihapuskan sejalan dengan hapusnya tradisi Asumundung dan Karang hulu oleh Dewan Pemerintah Bali Tahun 1951.
11. Pemakaian bahasa dalam etika moral pergaulan antar wangsa, sepatutnya saling harga-menghargai agar jangan menimbulkan kesan pelecehan terhadap wangsa lainnya.

Demikian Bhisama ini ditetapkan untuk memberikan tuntunan kepada umat Hindu demi tegaknya supremasi nilai-nilai agama Hindu di atas adat-istiadat. Dengan demikian adat-istladatpun akan tetap terpelihara dengan dasar kebenaran ajaran agama. Hendaknya umat Hindu tetap memelihara adat yang menjadi media penyebaran kebenaran Veda yang disebut Satya Dharma.



Ditetapkan di : Mataram, NTB
Pada Tanggal : 29 Oktober 2002

Powered by Bali Tour Driver

Thursday, March 12, 2015

TUHAN dalam pandangan leluhur Nusantara

"TUHAN" DALAM PANDANGAN BANGSA NUSANTARA   Leluhur Nusantara) mengajarkan tata cara hidup beradab BERADAB kepada kita semua, namun keberadaban yang dimaksud sama sekali tidak ada urusannya dengan KETUHANAN (tidak mengatas-namakan TUHAN). Artinya, oleh para leluhur Nusantara "tuhan" sama sekali tidak dijadikan OBJEK bulan-bulanan, baik untuk menakut-nakuti manusia, mengancam maupun hanya untuk menyenangkan dan menggembirakan 'Dia'. Sungguh begitu NAIF dan RENDAH, jika ternyata TUHAN masih membutuhkan perasaan SENANG dan GEMBIRA ataupun MARAH. Tuhan macam apa yang seperti itu.? jenis "Tuhan" yang begitu jangan-jangan hanya "tuhan-tuhanan" hasil ciptaan manusia.   


Bagi Nusantara, TUHAN diletakan pada posisi yang MAHA-ADILUHUNG dan tidak boleh dilanggar, sehingga NAMA-NYA TIDAK BOLEH SEMBARANG DISEBUTKAN! Bahkan ada kecenderungan hampir "TIDAK BERNAMA", sebab "tuhan" TIDAK BOLEH DICIPTAKAN oleh manusia dalam bentuk atau status apapun (termasuk nama/sebutan).   Selama ribuan tahun leluhur Nusantara 'menyimpan' TUHAN di dalam dirinya masing-masing, ditempat yang maha agung yang tak tersentuh oleh KERENDAHAN AKAL. Ini sama sekali BUKAN PENGASINGAN kepada-Nya, melainkan bentuk PENGHORMATAN kepada YANG MAHA.   Bagi leluhur Nusantar , TUHAN adalah yang tidak boleh terpilah dan terpisah, "dia" adalah satu kesatuan (kemanunggalan) yang harus dipertanggung-jawabkan oleh setiap individu. Artinya, SIAPAPUN YANG BERANI MENYEBUT-NYA harus dapat MEMBUKTIKAN-NYA. maka sungguh berat tanggung-jawab untuk mengatakan TUHAN. saat seseorang mengatakan "TUHAN" maka dia harus mampu menunjukan HUKUM BUKTI KEBERADAAN secara SERENTAK dan MENYELURUH TERDENGAR, TERABA, TERLIHAT, TERKECAP, TERCIUM,TERASA!   


Sungguh berbeda dengan jaman sekarang dimana bangsa Nusantara dengan MUDAH menyebut dan mengatakan TUHAN, bahkan lebih edan lagi ada yang MENGATAS-NAMAKAN TUHAN. (atas nama TUHAN). celakanya mereka itu tak ada satupun yang mampu MEMBUKTIKANNYA. hampir 100% BERLINDUNG DI BALIK TEORI-TEORI dalam KITAB dan sama sekali BUKAN BERDASARKAN BUKTI DIRI!   Akhirnya, pandangan masyarakat umum dalam ketidak-tahuan terhadap AJARAN Asli Nusantara menjadi semakin sempit dan NEGATIF, apalagi setelah muncul berbagai teori THEIS dan RELIGI dalam bidang ilmu pengetahuan (pendidikan) hingga ajaran leluhur dicap sebagai ANIMISME ataupun DINAMISME, ironisnya di "YA" kan oleh mayoritas bangsa Nusantara itu sendiri.   


Begitu tingginya Tuhan ditempatkan di atas segala-galanya, hingga yang sering terlihat dihadapan umum hanyalah UPACARA UNGKAPAN RASA TERIMA-KASIH kepada ALAM SEMESTA atas kehidupan yang saling memberi dan menerima, saling mengisi dan menjaga. (bukankah menjaga dan mengelola segala CIPTAANNYA merupakan BUKTI dan BAKTI nyata kepada Sang Maha Pencipta...?) "SEPI PUJIAN tapi NYATA dalam BUKTI dan BAKTI".   Ajaran LELUHUR BANGSA NUSANTARA sebagai TUAN RUMAH saat ini malah TERSISIH dan TERSINGKIRKAN oleh ajaran (agama) IMPORT yang BARU LAHIR kemudian.... Ajaran Nusantara TERBUANG dari kehidupan ANAK BANGSA yang senyata-nyatanya sebagai PEWARIS RESMI AJARAN LELUHUR NEGARA.... Apa sebabnya.?


Konon akibat ajaran Nusantara seolah TIDAK MENGENAL TUHAN, sedangkan agama import secara EKSPLISIT mengajarkan tentang keberadaan 'tuhan' dengan NAMA dan PANGGILAN yang JELAS, dengan demikian AGAMA IMPORT itu dianggap LEBIH BENAR...LEBIH BERADAB... LEBIH SEMPURNA dan secara sah DIAKUI oleh NEGARA REPUBLIK INDONESIA...!!!   Saat ini nama dan sebutan TUHAN begitu mudah DIJUMPAI dan mudah DIDENGAR, nama Sang Maha Agung begitu MURAH DIOBRAL dalam berbagai sisi kehidupan, dijadikan objek bulan-bulanan atas berbagai kejadian.... umumnya sering disebut sebagai KEHENDAK TUHAN...! Bahkan dalam salah satu agama import "tuhan" itu BOLEH DISEBUT, DAPAT DIPANGGIL, HARUS DIKATAKAN.   


Sungguh ironis... ajaran leluhur bangsa yang begitu agung menempatkan Sang Maha Tunggal dalam jarak yang sulit dijangkau kebodohan tidak lagi dipandang sebagai suatu KEBAJIKAN dan KEBIJAKAN... Dalam hal ini, secara adat-istiadat (kebudayaan Nusantara) NAMA ORANG TUA sendiri-pun TABU untuk disebutkan langsung jika tidak benar-benar diperlukan... apalagi NAMA TUHAN... dan lebih terasa KURANG AJAR LAGI APABILA TUHAN DIPANGGIL NAMANYA.)   TIPS UNTUK BEREKSPERIMEN : Cobalah panggil orang tua anda dengan cara memanggil namanya secara langsung... Apa yang akan terjadi ...? Misalnya : "Hai Joko...Hai wayan dsb !"   Betapa BERDAULATNYA menjadi orang Inggris yang dapat menyebut "GOD" kepada tuhannya tanpa dipandang RENDAH oleh bangsa manapun.... kenapa BANGSA NUSANTARA seolah-olah ANTI untuk menyebut "HYANG" kepada tuhannya...????

Di copas dari entah darimana.

Monday, February 16, 2015

Wayan Limbak - Pencipta tari Kecak

Wayan Limbak (1897 - August 31, 2003), adalah seorang penari Bali yang bersama-sama Walter Spies (seorang pelukis Jerman) menciptakan tarian Kecak yang sangat terkenal sekarang ini. Beliau meninggal dunia di usia 106 tahun di Desa Bedulu, Gianyar, Bali.

 Kecak Bedulu

Bekerjasama dengan Walter Spies sekitar tahun 1930an, berawal dari tarian Sang Hyang (tarian suci untuk ritual upacara) yang digelar setiap tahun dalam upacara suci di Pura Goa Gajah, Bedulu, Gianyar. Dengan usulan dari Walter Spies, tarian Sang Hyang tersebut dimodifikasi menjadi sebuah tarian Kecak seperti sekarang yang kita kenal, dengan mensisipkan cerita biasanya diambil dari epos Ramayana,  takkala Subali bertempur dengan adiknya Sugriwa atau Rahwana menculik Dewi Sita.

Tarian Kecak ini ditarikan 50 sampai 100 orang dengan hanya menggunakan kain hitam dan ikat pinggang loreng tanpa baju membentuk formasi lingkaran, dimana nada musik untuk mengiringi tarian pemeran tokoh2 cerita, hanya dengan suara seluruh penari bersahut sahutan dengan mengucapkan cak cak cak cak...

 bali information

Wayan Limbak mempopulerkan tari Kecak sebagai wakil Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya ke seluruh dunia dengan membawa grup tarinya keliling dunia untuk mengikuti berbagai festival internasional.

Wayan Limbak pada saat hidupnya memiliki 3 istri, 4 anak, 22 cucu, 17 cicit.

Disadur dari berbagai sumber.

By: Yanik Jiwa Negara

Tuesday, June 10, 2014

Filsafat Hindu

FILSAFAT HINDU


Filsafat Hindu bisa dibagi menjadi 6 sekolah "astika" (ortodox) atau darshana (pandangan), dimana menerima Weda sebagai sumber sastra utama. Dan 3 sekolah "nastika" (heteredox), yang tidak menerima Weda sebagai sumber sastra utama.


Sekolah2 Astika adalah:


1. Sankhya.

Samkhya atau Sankhya adalah filsafat Hindu Ortodox yang paling tua. Samkhya menyatakan semuanya adalah realitas yang berasal dari purusha (diri, atman, jiwa) dan prakriti (material, energy). Ada banyak jiwa yang hidup (Jeevatmas) dan semuanya memiliki kesadaran. Prakriti terdiri dari 3 sifat (guna): aktif (rajas), malas (tamas), tenang (sattva) (sattva ini timbul jika 2 sifat/guna yang lainnya berada dalam keseimbangan). Karena hubungan yang melekat antara jiwa dan 3 sifat tadi, sehingga dunia ini berevolusi. Kebebasan jiwa bisa dicapai jika jiwa menyadari bahwa ia berada diatas dan diluar tiga sifat tadi (terlepas dari ikatan 3 sifat/triguna tadi). Samkhya adalah filsafat dualitas, tapi berbeda dengan bentuk dualitas yang lain. Di barat, dualitas adalah antara pikiran dan tubuh, sedangkan Samkhya antara jiwa dan materi (dalam hal ini pikiran termasuk materi). Konsep atman (jiwa) berbeda dengan konsep pikiran. Jiwa adalah realitas absolut merasuki semuanya, abadi, tidak bisa dihancurkan, tidak berbentuk, kesadaran murni. Jiwa adalah non-materi dan diluar intelek. Pada dasarnya, Samkhya adalah non-theis, tapi pertemuannya dengan filsafat Yoga menjadi theis.

2. Yoga

Filsafat Yoga sangat dekat dengan Samkhya. Sekolah Yoga ditemukan oleh Patanjali dengan menerima psikolgi dan metafisik dari Samkhya, tapi lebih theistik dari Samkhya, sebagai contoh dengan menambah entitas Tuhan pada 25 element realitas Samkhya. Persamaan antara Yoga dan Samkhya sangat dekat seperti Max Muller bilang "kedua2nya searah susah membedakan, bisa dibilang Samkhya dengan Tuhan dan Samkhya tanpa Tuhan..." .
Kitab utama sekolah Yoga adalah Yoga Sutra oleh Patanjali, yang dianggap sebagai penemu filsafat Yoga.

3. Nyaya

Sekolah Nyaya didasari oleh Nyaya Sutra yang ditulis oleh Aksapada Gautama, sekitar abad 2 SM. Kontribusi paling penting dari sekolah ini adalah metodeloginya. Metodeloginya didasari oleh sistem logika yang selanjutnya dipakai oleh mayoritas sekolah di India. Ini membandingkan hubungan antara sains barat dengan filsafat, yang mana sebagian besar diambil dari Logika Aristotelian.
Sayangnya, Nyaya dianggap lebih logikal dari sebenarnya oleh pengikutnya. Mereka percaya hanya dengan mendapatkan ilmu pengetahuan yang valid saja bisa terbebas dari penderitaan, dan mereka rela menderita hanya untuk meneliti validitas dari sebuah sumber ilmu, untuk memisahkan yang salah/tidak valid. Menurut Nyaya, ada 4 sumber pengetahuan: persepsi, kesimpulan, perbandingan, testimoni. Pengetahuan dicari melalui itu semua untuk menentukan apakah valid atau tidak valid. Nyaya mengembangkan beberapa kriteria validitas. Misalnya, Nyaya adalah mungkin yang paling dekat dengan filsafat analisa India. Yang pada akhirnya Nyaya memberikan bukti logis terhadap eksistensi dan keunikan Ishvara sebagai jawaban atas Buddhism, dimana saat itu Buddhism pada dasarnya non-theis. Nyaya selanjutnya yang lebih dikenal adalah navya-nyaya/ neo-nyaya.

4. Vaisheshika

Sekolah Vaisheshika ditemukan oleh Kanada dan menekankan keberagaman atom. Semua obyek di alam fisik bisa diuraikan menjadi atom2 tertentu, dan Brahman dianggap sebagai kekuatan fundamental yang menyebabkan kesadaran pada atom2 ini.
Walaupun Sekolah Vaisheshika berkembang terpisah dari Nyaya, dua2nya akhirnya bergabung karena persamaan teori tentang metafisika. Pada awal2nya, bagaimanapun Vaisheshika dibedakan dengan Nyaya pada hal krusial, dimana Nyaya menerima 4 sumber pengetahuan validitas, Vaisheshika hanya menerima 2: persepsi dan kesimpulan.

5. Mimamsa

Obyektifitas utama adalah sekolah Purva Mimamsa, didirikan untuk otoritas Weda. Selanjutnya, sekolah ini sangat berjasa dalam kontribusinya menentukan aturan2 perumusan penafsiran Weda. Pengikut Mimamsa percaya bahwa seseorang harus mempunyai kepercayaan yang gak perlu dipertanyakan terhadap Weda dan melaksanakan selalu Yajnas, atau ritual api suci. Mereka percaya dalam kekuatan mantra dan yajnas lah aktifitas semesta ini bisa berjalan. Untuk mendukung kepercayaan ini, mereka sangat menekankan pada dharma, yang terdiri dari melakukan ritual2 Weda.
Mimamsa menerima ajaran logika dan filsafat dari sekolah2 lain, tapi mereka merasa belum cukup sehingga ditekankan adalah tingkah laku yang benar. Mereka percaya bahwa pemikiran sekolah2 yang lain yang bertujuan untuk kebebasan (moksha) tidak bisa benar2 bebas dari keinginan dan keegoan, karena usaha untuk kebebasan malah dihalangi oleh keinginan sederhana yaitu keinginan untuk bebas. Menurut pemikiran Mimamsa, hanya dengan bertingkah laku sesuai sesuai yang tertulis di Wedalah orang bisa mencapai kebebasan.
Sekolah Mimamsa akhirnya merubah pandangannya dan mulai mengajarkan doktrin Brahman dan pencapaian Kebebasannya. Pengikut2nya kemudian menyatakan untuk mencapai kebebasan jiwa harus diimbangi dengan kegiatan pencerahan. Meskipun Mimamsa tidak begitu menarik perhatian para ahli2 filsafat, tapi pengaruhnya masih bisa dirasakan dalam kehidupan Hindu sampai sekarang, karena semua ritual Hindu, upacara dan hukum2 dipengaruhi oleh sekolah ini.

6. Vedanta

Vedanta atau kelanjutan dari Sekolah Mimamsa, lebih mengutamakan ajaran filsafat dari Upanishad daripada perintah2 ritual dari Brahmana.
Ketika tradisi ritual Weda trus berlangung sebagai ritual meditatif dan untuk mencari kedamaian, pusat2 pengajaran ilmu pengetahuan semakin banyak muncul. Ini adalah aspek mistik dari agama Weda yang fokus pada meditasi, desiplin diri, spiritual lebih daripada tradisi2 ritual.
Bisa dikatakan Vedanta adalah esensi dari Weda, dibungkus oleh Upanishads (pemikiran2 Weda tentang kosmologi, himne dan filsafat). Brihadaranyaka Upanishad adalah dipercaya sudah ada jauh sebelum 3.000 tahun lalu. Upanishad ada 100an lebih, dimana 13 upanishads dianggap sebagai pokok. Kontribusi yang paling signifikan dari Weda adalah ide tentang kesadaran diri dan dilanjutkan dengan tidak dibedakannya kesadaran tadi dengan Brahman.
Ungkapan2 dalam Vedanta diberikan dalam bentuk perumpamaan, kiasan dan puisi, dan boleh ditafsirkan bermacam2. Mengakibatkan Vedanta dipisahkan menjadi 6 cabang sekolah, setiap penafsiran teks tertentu dalam cara tertentu dan menghasilkan seri tertentu juga dalam ajarannya.
Diantaranya adalah:
Adi SankaracharyaAdi Sankaracharya

- Advaita oleh Adi Shankaracharya (788-820) = Advaita Vedānta dikemukakan oleh Adi Sankara dan kakek gurunya Gaudapada, dengan menulis Ajativada. Menurut sekolah Advaita Vedanta ini, Brahman adalah satu2nya yang nyata, dan dunia yang seperti terlihat ini adalah ilusi. Dikarenakan hanya Brahman satu2nya yang nyata, maka Brahman tidak bisa dibilang memiliki atribut apapun. Kekuatan ilusi dari Brahman disebut Maya yang menyebabkan dunia ini ada. Ketidaktahuan dari kenyataan ini adalah penyebab semua penderitaan di dunia ini, dan hanya melalui pengetahuan yang benar tentang Brahman, seseorang bisa mencapai pembebasan. Ketika seseorang mencoba untuk mengetahui Brahman melalui pikirannya yang masih diseliputi Maya, maka Brahman muncul dalam bentuk Tuhan (Ishvara), yang terpisah dari dunia dan mahluk. Pikiran ada, Tuhan/Ishvarapun ada; pikiran terlampaui, Isvarapun tidak ada, yang ada hanya Brahman. Pada kenyataannya, tidak ada bedanya antara jiwa individu jivatman (atman) dan Brahman. Pembebasan terjadi dengan mengetahui kenyataan ini yakni tidak-ada-perbedaan (non-dualitas = a-dvaita). Maka, jalan untuk pembebasan adalah hanya dengan pengetahuan (jnana). Kelanjutan ajaran Advaita disebarkan oleh Ramakrishna, Svami Vivekananda, Sri Ramana Maharsi.

- Visishtadvaita oleh Ramanujacharya (1040-1137) Vishishtadvaita dikemukakan oleh Ramanuja/Ramanujacharya yang menyatakan bahwa jīvātman adalah bagian dari Brahman, yang akhirnya dinyatakan sama tapi tidak identik. Perbedaan pokok dengan Advaita adalah Visishtadvaita menyatakan Brahman memiliki atribut, termasuk kesadaran jiwa individu/Atman juga materi. Brahman, Atman dan Materi adalah berbeda tapi satu dengan lainnya tidak bisa dipisahkan. Sekolah ini mengemukakan Bhakti atau pemujaan kepada Tuhan dalam bentuk Vishnu sebagai jalan pembebasan. Maya dilihat sebagai kekuatan mencipta dari Tuhan.

- Dvaita oleh Madhvacharya (1238-1317) Dvaita dikemukakan oleh Madhwacharya. Ini juga disebut sebagai tatvavādā - Filsafat Realitas. Sekolah ini mengidentifikasikan Tuhan sebagai Brahman secara mutlak, dalam bentuk Vishnu atau inkarnasiNya seperti Krishna, Narasimha, dll. Dalam hal ini juga dikenal sebagai filsafat sat-vaishnava untuk membedakan dengan sekolah Vishishtadvaita oleh sri-vaishnavism. Dvaita ini menyatakan Brahman, jiwa individu (jivatman) dan materi semuanya abadi dan merupakan entitas yang berbeda2. Sekolah ini juga menganjurkan Bhakti sebagai jalan pembebasan yang sattvic/tenang dimana kebencian (Dvesha) dan ketidakpedulian terhadap Tuhan akan membawa ke neraka yang abadi dan penderitaan abadi. Pembebasan adalah keadaan pada pencapaian tingkat maksimal kesenangan dan kesedihan, yang diberikan kepada jiwa (pada akhir sadhana/kesadaran), berdasarkan ikatan jiwa dan sifat2 alami kebaikan dan kejahatan. Achintya-adbhuta shakti (kekuatan tanpa batas) dari Tuhan Vishnu adalah sebagai penyebab utama dari alam semesta dan materi awal (prakrti) adalah penyebab material alam. Dvaita juga mengemukakan bahwa semua aksi dilakukan oleh Tuhan untuk menghidupi jiwa2, dan menganugrahkan hasil kepada jiwa2 sedangkan diriNya sendiri tidak terpengaruh sedikitpun oleh hasil tersebut.

- Dvaitadvaita (Bhedabheda) oleh Nimbarka abad 13 Dvaitādvaita dikemukakan oleh Nimbārka, berdasarkan sekolah sebelumnya yaitu Bhedābheda, yang diajarkan oleh Bhaskara. Menurut sekolah ini, Jivatman bisa sama dan bisa berbeda dengan Brahman. Hubungan Jiva dengan Brahman bisa seperti Dvaita dalam satu sudut pandang, bisa seperti Advaita dari sudut pandang yang lain. Di sekolah ini, Tuhan divisualisasikan sebagai Krishna.

- Shuddhadvaita oleh Vallabhacharya (1479 - 1531) Shuddhadvaita dikemukakan oleh Vallabha/Vallabhacharya. Sistem sekolah ini juga mengidentifikasikan Bhakti sebagai satu2nya jalan pembebasan. Dunia ini dikatakan sebagai permainan (Leela) dari Krishna, yang sat-chit-ananda (eksistensi, kesadaran, kebahagiaan).

- Acintya Bheda Abheda oleh Chaitanya Mahaprabhu (1486-1534), Achintya Bhedābheda dikemukakan oleh Chaitanya Mahaprabhu, dia adalah pengikut Dvaita vedantanya Sri Madhwacharya. Doktrin yang menyatakan tidak bisa dibayangkan dan secara bersamaan keadaan penyatuan dan pemisahan dari jiwa dan energi Tuhan, adalah dua2nya berbeda dan tak-berbeda dari Tuhan, dimana Dia diidentifikasikan sebagai Krishna, Govinda, meskipun tidak bisa dipikirkan, bisa dialami melalui proses kecintaan dan bakti. Filsafat tentang "tidak bisa dibayangkan, penyatuan dan pemisahan" diikuti oleh beberapa gerakan modern Gaudiya Vaisnava, termasuk ISKCON (International Society for Krishna Consciousness) yang lebih dikenal dengan Hare Krishna ditemukan oleh Svami Prabhupada.


Sekolah2 Nastika adalah:

1. Buddhisme
2. Jainisme
3. Carvaka, sekolah material skeptis, yang sudah punah sekitar abad 15 karena kitab utamanya hilang.

Di sejarah Hindu, perbedaan dari sekolah2 diatas terjadi pada "jaman emas". Kemudian sekolah2 Vaishshika dan Mimamsa tidak muncul pada akhir jaman pertengahan, dimana bermacam2 cabang sekolah dari Vedanta (Dwaita "dualisme" dan Adwaita "non-dualisme", dan yang lainnya) mulai muncul dan banyak dipakai sampai sekarang. Nyaya bertahan sampai abad 17 sebagai "Navya Nyaya" Neo-Nyaya, sedangkan Sankhya dikit demi sedikit kehilangan statusnya sebagai sekolah lepas. Tapi inti ajarannya mempengaruhi Yoga dan Vedanta.


Sumber: wikipedia dan site lainnya

By: Jiwa Negara Yanik

Friday, June 06, 2014

10 Tahapan minuman keras.

Arak dan Tuak adalah minuman tradisional beralkohol yang paling terkenal di Bali. Tuak berasal dari sadapan pohon aren atau kelapa yang berkadar alkohol rendah, sedangkan arak adalah hasil penyulingan dari tuak yang mempunyai kadar alkohol lebih tinggi. Ada satu lagi yaitu "brem", berasal dari tape beras atau singkong, jika disuling brem juga akan menjadi arak.  Kadar alkohol arak tergantung dari hasil proses penyulingan.

Disini saya ingin menulis 10 tahapan minum berdasarkan kitab Jawa dan Bali.  Disini dipakai takaran "dhasar", bumbung bagi tuak dan sloki bagi arak.  Bisa juga dipakai gelas bagi bir dan sloki bagi wiskey :D

Berikut adalah tahapannya:

1. EKA PADMASARI

Eka: satu; Padma: Bunga (teratai); Sari: inti, esensi, asri. Orang minum kalau baru satu sloki diibaratkan sari bunga mekar yang indah.  Dipandang enak, di hati menyenangkan, di tubuh menyehatkan.

2. DWI MARTANI

Dwi: Dua; Martani: (Marta: sabar; Martani: menghibur). Orang minum sampai ke sloki kedua ucapannya masih jelas, ramah dan memberikan hiburan kepada semua orang juga menghibur untuk diri sendiri.

3. TRI KAWULA BUSANA

Tri: Tiga; Kawula: Bawahan/pembantu; Busana: Pakaian. Orang minum tiga sloki ibaratnya pembantu yang berpakaian serba indah atau baru; hatinya amat gembira, merasa "pede" sehingga tidak minder untuk berdampingan dengan tuannya. Dikatakan bahwa sloki ke tiga ini, dengan timbulnya kehilangan rasa segan dan rasa malu. Sayangnya setelah menghabiskan tiga sloki orang bukannya berhenti minum tetapi justru akan meneruskan minum karena rasa minuman sudah terasa enak di bibir dan tubuh.

4. CATUR WANARA RUKEM

Catur: Empat; Wanara: Kera; Rukem: Makanan atau buah-buahan. Disinilah kehilangan pengendalian diri mulai meningkat. Minum habis empat sloki diibaratkan kera berebut buah-buahan. Sudah barang tentu suasana ribut, hiruk pikuk dan cenderung terjadi kekisruhan.

5. PANCA SURA PANGGAH

Panca: Lima; Sura: Berani; Panggah: Kokoh, tidak berubah. Orang yang minum habis lima sloki selalu serba berani. Tak ada keraguan maupun ketakutan lagi. (Catatan: “berani” dalam pengertian tidak baik, tidak ada lagi rasa malu dan takut). Binaragawan pun kelihatan tubuhnya kecil :D.

6. SAD GUNA WEWEKA

Sad: Enam; Guna: pandai; Weweka: Waspada. Maksudnya, setelah minum enam sloki maka orang akan semakin waspada (dalam pengertian negatif, mudah curiga). Mendengar pembicaraan yang sama-samar, timbul salah sangka. Ada orang memandang biasa-biasa saja terasa mau menantang.

7. SAPTA KUKILA WARSA

Sapta: Tujuh; Kukila: Burung; Warsa: Hujan. Minum habis tujuh sloki ibaratnya burung kehujanan. Gemetaran dengan mengeluarkan suara-suara yang tak jelas. Mulai berbicara dengan bahasa asing.

8. ASTHA KACARA-CARA

Astha: Delapan; Kacara-cara: Bicara sembarangan. Setelah habis delapan sloki maka orang akan bicara sembarangan tidak jelas ujung-pangkalnya. Mulai berbicara bahasa alien :D

9. NAWA WAGRA LUPA

Nawa: Sembilan; Wagra: Macan; Lupa: kelelahan. Orang minum sembilan sloki sudah muntah-muntah dan lemas, ibaratnya harimau kelelahan. Tergolek tidak berdaya.

10, DASA BUTA MATI

Dasa: Sepuluh; Buta: Raksasa; Mati: Mati. Akhirnya setelah sepuluh sloki ibarat bangkai raksasa galak yang tergeletak mati tanpa meninggalkan bekas-bekas kegalakannya. 


KESIMPULAN

Melihat uraian di atas,  marilah kita minum sewajarnya, jangan berlebihan.  Cheeerrssss.... mari bersulang....!!!!

baligreattravel.com

Wednesday, June 04, 2014

Charles Darwin

Siapakah Charles Darwin?

Robert Charles Darwin (1809 - 1882) merupakan anak kelima dari enam bersaudara dari keluarga Shropshire di kota kecil Shrewsbury. Ayahnya, Robert Waring Darwin (1766 - 1848) adalah seorang dokter dan finacial konsultan yang merupakan anak dari penyair terkenal Erasmus Darwin. Ibu Chales Darwin, Susannah Wedgwood (1765 - 1817) meninggal dunia ketika ia berusia delapan tahun. Setelah kematian ibunya, Darwin dibesakan oleh kakak-kakak perempuanya dengan harta yg cukup dan kenyamanan . Ia menghabiskan masa sekolahnya di asrama sekolah Shrewsbury dari tahun 1818 sampai dengan 1825.

Pada Oktober 1825, Charles Darwin bersekolah di Universitas Edinburgh (Edinburgh University) bersama saudaranya Erasmus Darwin untuk mempelajari ilmu kedokteran. Selama di Edinburgh, Darwin lebih tertarik untuk menyelidiki hewan laut yang bertulang belakang dengan bimbingan Robert Grant. Di sanalah nama Charles Darwin pertama kali muncul di media cetak di salah satu artikel Grant. Darwin tidak menyukai ilmu kedokteran karena ketidak tahanan dirinya untuk melihat darah dan penderitaan ayahnya karena sakit yang disarankan oleh gereja sebagai alternatif terhormat. Darwin melihat suatu kebebasan untuk menjadi pendeta negara dan mengejar minatnya untuk mempelajari lebih banyak tentang alam. Sambil menunggu untuk memutuskan langkah lebih lanjut, ia membaca beberapa buku tentang agama Kristen dan memerlukan gelar BA dari universitas di Inggris.

Pada 15 Oktober 1827, ia menjadi anggota Christ’s College (kampus kristus) di Cambridge. Karena ia telah lupa dengan bahasa Yunani yang pernah ia pelajari dan dalam kuliah sehari-harinya ia memerlukan bahasa Yunani, ia tidak dapat menghadiri kuliah dalam bulan Oktober. Ia harus belajar dari rumah dengan guru privat sampai ia mampu menterjemahkan dengan beberapa kemudahan.
Ia juga mulai rajin mengumpulakan contoh serangga bersama mahasiswa-mahasiswa lainnya sebagai naturalis amatir, yang membuat namanya mulai muncul di media cetak ketika beberapa catatan tentang menangkap serangga oleh Stephens dalam bukunya British Entomology pada tahun 1829. Kata pertama yang dari Darwin yang diterbitkan adalah “Cambridge”. Darwin menjadi pengikut setia Profesor botani John Stevens Henslow (1796 - 1861). Darwin lulus ujian B.A. nya pada bulan Januari 1831, tetapi karena ia tidak memenuhi persyaratan tinggal, gelar tersebut tidak diberikan sampai 26 April 1831. Setelah itu ia mulai mengajar dasar-dasar geologi lapangan bersama Profesor Adam Sedgwick selama tur ke Wales utara.

Melalui Profesor Henslow, Darwin memperoleh tawaran darai Komandan laut Robert FitzRoy untuk bepergian dengan kapal survei, HMS Beagle, sebagai orang ilmiah atau naturalis. Perjalanan keliling dunia ini akan berlangsung selama lima tahun. Darwin menghabiskan sebagian besar waktunya ini meyelidiki geologi dan zoologi daerah-daerah yang dikunjunginya, terutama Amerika Selatan (Latin), kepulauan Galapagos, dan pulau-pulau yang berada di samudra Pasific. Ia mencatat pengalamannya dalam buku harian yang kemudian menjadi dasar buku Journal of Researches (jurnal penelitian ) (1839), yang sekarang dikenal dengan Voyage of the Beagle (Perjalanan Beagle). Ini kemudian dipakai untuk pertama kali dalam judul halaman buku edisi 1905.
Darwin juga mengumpulkan segala macam contoh organisme yang tercatat  di dalam daftar specimen dan zoologi. Inilah yang kemudian menjadi dasar volume lima seri yang ia edit sendiri setelah kembali pulang The zoology of the voyage of H.M.S Beagle (1838 - 1843).

Darwin juga banyak memukan fosil-fosil di Amerika Selatan. Dia bertanya-tanya mengapa ada persamaan antara fosil-fosil tersebut dengan penghuni tempat tersebut yang ada sekarang melebihi specimen-specimen yang lain? Darimana spesies baru berasal? Bahkan, mengapa dunia ditutupi dengan berbagai macam dan begitu banyak makhluk hidup? Mengapa beberapa sangat mirip satu sama lain dan yang lain sangat berbeda? Jika spesies telah diciptakan untuk sesuai dengan lingkungan mereka, seperti apa yang diyakini pada masa itu, mengapa spesies-spesies hutan yang ada berbeda di Asia, Afrika dan Amerika Selatan meskipun memiliki kesamaan iklim?

Darwin tidak membayangkan solusi pemecahan tentang pertanyaan-pertanyaan yang dimiliki selama pelayaran Beagle, melainkan beberapa tahun kemudian di London, ketika menulis buku tentang perjalanan dan mempelajari spesimen yang telah dikumpulkan. Para ahli di London, seperti ahli burung John Gould, mampu menjelaskan berapa spesimen tumbuhan dan hewan yang telah dikumpulkan di Kepulauan Galapagos merupakan spesies yang unik, yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Mereka mirip spesies dari Amerika Selatan yang berjarak 600 mil dari dimana ditemukan. Sepertinya menurut Darwin, seakan species-species tersebut telah datang dari Amerika Selatan ke Galapagos, setelah pulau ini naik dari laut sebagai sebab aktivitas gunung berapi, dan kemudian berubah dari waktu ke waktu dalam isolasi di pulau-pulau tersebut.

Darwin mulai berspekulasi tentang bagaimana spesies baru bisa muncul oleh sebab alami yang dapat diamati. Eklektisisme istimewa membawanya untuk menyelidiki beberapa bukti yang tidak konvensional. Ia membuat pertanyaan yang tak terhitung untuk peternak hewan, baik petani dan penggemar seperti peternak merpati, untuk mencoba memahami bagaimana mereka membuat keturunan yang berbeda dari tumbuhan dan hewan. Secara bertahap Darwin menyimpulkan bahwa organisme memiliki variabel yang tidak terbatas, dan bahwa seharusnya batas atau hambatan untuk spesies adalah sebuah keyakinan tanpa dasar. Dalam istilah modern kita akan mengatakan bahwa Darwin menerima bahwa kehidupan berkembang (berevolusi). Satu pandangan konvensional saat itu adalah bahwa spesies telah diciptakan di mana mereka sekarang ditemukan, sesuai dengan lingkungannya. Hanya sedikit orang ilmiah berpendapat bahwa hanya ada satu kali proses penciptaan, namun bukti fosil tampaknya menunjukkan proses penciptaan sangat banyak, terjadi di masa dan lapisan geologi yang berbeda.

Darwin kemudian berusaha untuk menjelaskan bagaimana mahluk hidup berubah bentuk dari waktu ke waktu. Ia terbiasa dengan spekulasi evolusi yang diusulkan sebelumnya oleh kakeknya Erasmus Darwin dan oleh ahli zoologi besar Perancis Jean-Baptiste Lamarck. Ia memikirkan bahwa sejarah kehidupan bukan sebagai garis keturunan independen yang entah bagaimana secara bertahap maju ke atas dari monads ke monyet. Sebaliknya Darwin melihat seluruh kehidupan sebagai pohon silsilah tunggal yang bercabang-cabang. Jadi kesamaan diantara berbagai makhluk hidup akan dapat diharapkan dari nenek moyang bersama mereka atau garis keturunan yang sama. Spekulasi Darwin dan teori awal ini dicatat dalam serangkaian notebook yang hampir sama dengan yang ia bawa selama pelayaran Beagle.

Pada September 1838 Darwin membaca tulisan karya Thomas Malthus, Essay on the Principle of Population atau Prinsip Penduduk (1798). Seperti Janet Browne telah menulis, Darwin adalah 'jelas menindaklanjuti baris penyelidikan yang berkaitan dengan variasi individu, rata-rata, dan kesempatan, serta mencari informasi tentang statistik populasi manusia. " (Browne 1995, hal 385) Malthus berpendapat bahwa pertumbuhan populasi manusia, kecuali entah bagaimana diseimbangkan, tentu akan melampaui produksi pangan. Pertumbuhan penduduk adalah geometris. Sebagai contoh, dua orang tua mungkin memiliki empat anak, masing-masing bisa memiliki empat anak, yang anak-anak juga bisa memiliki empat anak. Jadi dalam empat generasi akan ada peningkatan dari 2 menjadi 4,
24, 96, dan seterusnya.

Fokus dari argumen ini memberikan Darwin inspirasi. Ia menyadari bahwa proporsi yang cukup besar dari makhluk hidup selalu mati sebelum mereka dapat bereproduksi. Hal ini akan benar karena apabila setiap spesies sukses berkembang biak maka akan cukup untuk memenuhi seluruh permukaan bumi dalam beberapa ratus generasi. Sebaliknya populasi tetap stabil dari tahun ke tahun. Satu-satunya penjelasan kenapa hal ini bisa terjadi karena sebagian besar keturunan tidak bertahan cukup lama untuk bereproduksi kembali.
Darwin sudah berkonsentrasi pada bagaimana varietas baru suatu kehidupan dapat terbentuk dan menyadari kunci yang membuat perbedaan antara mereka yang bertahan untuk bereproduksi dan mereka yang tidak. Ia menyebut penyebab ini  'seleksi alam' karena sesuai dengan analogi peternak yang memilih individu untuk berkembang biak untuk mendapatkan jenis individu yang diinginkan dan mengubah suatu jenis individu menjadi individu lain dalam suatu jangka waktu.

Hal ini kemudian dijelaskan Darwin dalam Origin of Species (1859):

Dari sekian banyak individu yang lahir dari setiap species dan dapat bertahan hidup, sebagai konsekuensinya, ada perjuangan untuk eksistensi, ini berarti bahwa semua makhluk, jika berbeda sedikit namun dengan cara apapun yang menguntungkan dirinya sendiri, di bawah kompleksitas dan berbagai kondisi kehidupan yang berbeda, akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan, dan dengan demikian secara alami dipilih. Dari prinsip yang kuat dari garis keturunan, setiap varietas yang dipilih akan cenderung untuk mewariskan bentuk barunya yang termodifikasi.

Saturday, May 31, 2014

Jangan Hubungkan Sains dengan agama Anda

Sembilan Sifat Sains

 Beberapa orang mencoba menghubung-hubungkan sains dengan agama, atau sains dengan mitos atau yang terbaru, mengatakan kalau sains hanyalah budaya barat. Karena itu, kita harusnya paham apa saja sifat sains sesungguhnya. Berikut saya sertakan sembilan sifat sains yang telah diterima luas di kalangan ilmuan.

Sains menuntut Bukti

Semua penjelasan ilmiah pada akhirnya harus berdasarkan pada bukti yang sah. Tanpa bukti, penjelasan yang diajukan tidak lebih dari spekulasi saja. Saat anda mengatakan bahwa keimanan anda di dukung bukti yang kuat, maka anda sebenarnya tidak beriman, karena anda memerlukan bukti. Dengan mengatakan hal yang demikian pula, anda telah memposisikan sains sebagai keimanan. Anda mengalami miskonsepsi. Sains menuntut bukti, jadi sains bukan keimanan.

Sains memakai landasan berpikir kritis

Kemajuan sains tidak akan terjadi seandainya ilmuan tidak mempertanyakan asumsi lama, memeriksa dan menguji kembali data lama, dan mencari kesalahan teori lama sehingga membawa pada penjelasan yang baru dan lebih baik. Bila anda mengatakan keyakinan anda didukung sains modern, anda menempatkan keyakinan anda pada posisi berbahaya. Keyakinan anda akan mengalami proses pemikiran kritis seperti dipertanyakan, diperiksa dan dicari kesalahannya. Selain itu, hal ini membawa pada posisi bahaya seandainya dukungan sains modern tersebut di kemudian hari terbukti salah akibat proses berpikir kritis sains.

Penjelasan sains bersifat sementara

Tidak peduli seberapa kuatnya bukti dan hasil eksperimen, semua penjelasan ilmiah bersifat sementara. Ia diterima untuk masa kini namun dapat ditolak atau diperluas bila ada bukti baru yang berhasil menyangkalnya. Dalam hal ini, sains menatap ke masa depan. Bila anda memasukkan keyakinan anda dengan dukungan sains, anda membuat sifat keyakinan anda menjadi sementara dan anda harus siap suatu saat mengakui kalau keyakinan anda salah.

Sains tidak relevan dengan tradisi

Dalam sains, fakta yang disediakan tradisi adat istiadat tidaklah relevan. Sains tidak peduli dengan tradisi. Bila anda punya tradisi makan harus di tanah, dan sains menemukan kalau tradisi makan di tanah itu berbahaya, maka sains tidak akan menerima tradisi tersebut sebagai sesuatu yang benar untuk dilakukan. Sejarah sains penuh dengan tradisi dari berbagai suku bangsa yang berserakan karena telah terbukti gagal dan salah. Bila anda mencoba mempertahankan tradisi anda, jangan mencoba mengkaitkannya dengan sains. Karena hal demikian, akan membawa pada penilaian ilmiah. Tradisi anda berada dalam posisi bahaya. Bila penilaian ilmiah ternyata menemukan kalau tradisi anda salah, anda mau tidak mau harus menerima kalau dunia ilmiah tidak mendukung tradisi anda.

Sains berlandaskan pada matematika

Matematika adalah alat berpikir yang dibangun oleh logika. Matematika independen terhadap realitas. Ada matematika yang sesuai realitas, ada yang tidak sesuai realitas. Matematika yang sesuai realitas inilah yang digunakan oleh sains. Dan sains terus mengamati perkembangan matematika dan bila ada yang dapat diambil untuk penjelasan ilmiah, maka sains akan memakainya. Sebagai contoh, sebelumnya orang mengira kalau aljabar linier adalah matematika yang tidak sesuai realitas. Tapi kemudian dengan mencobakan aljabar linier dalam teka-teki fisika kuantum, para ilmuan berhasil meramalkan berbagai hal dan menunjukkan kalau aljabar linier ternyata dapat digunakan untuk menjelaskan realitas. Semua rumus dibangun dari definisi yang jelas. Matematika bukanlah permainan angka seperti numerologi. Matematika adalah sistem bernalar yang melibatkan persamaan-persamaan yang saling terikat dalam aksioma, definisi, teorema, lemma, konjektur dan postulat. Bila anda mencoba menerapkan matematika dalam keyakinan anda, maka anda membuatnya rentan terhadap analisa. Sedikit saja ditemukan tidak adanya konsistensi, maka keyakinan anda dapat runtuh.

Sains bersifat sekuler

Sains tidak memandang ras, agama, budaya, gender maupun bahasa. Sains dapat dilakukan oleh siapapun tanpa mengalami diskriminasi. Tidak ada yang namanya sains yunani, sains islam, sains china, sains perempuan, sains kulit putih, sains barat dan sebagainya. Prinsip-prinsip sains diturunkan murni dari daya intelektual manusia, bukan berdasarkan ras dll yang disebutkan di atas. Beberapa negara tampak lebih baik dalam sains, karena mereka lebih menghormati dan menyuburkan sains dalam masyarakatnya, bukan karena mereka kulit putih, atau karena mereka ateis. Sains mungkin dapat disamakan dengan olahraga. Setiap orang berhak untuk berolah raga. Singkatnya, sains adalah salah satu Hak Asasi Manusia.

Sains bukan agama

Kekuatan sains terletak pada berpikir kreatif dan kritis secara selaras. Satu pihak mengajukan sesuatu yang baru, yang lain mengkritik. Agama sebaliknya, bebas dari kritik dan bertopang sepenuhnya pada ketetapan masa lalu yang tidak boleh diubah.

Sains bertujuan memajukan kesejahteraan umat manusia

Sepanjang sejarah, sains telah menghasilkan begitu banyak kemajuan bagi umat manusia. Sains dapat dibagi dua menjadi sains dasar dan sains terapan. Dalam fisika misalnya, sains dasar mempelajari elektromagnetik dan membawa pada terapannya yaitu radio, televisi, ponsel, internet dsb. Dalam kimia, sains murni mempelajari sifat-sifat molekul metana, terapannya mencoba menjadikan metana sebagai bahan bakar untuk memasak. Dalam biologi, sains murni mempelajari evolusi virus, terapannya mencoba menemukan obat yang mampu menghancurkan rantai evolusi virus tersebut. Beberapa pihak dapat saja memanfaatkan sains untuk membuat bom seperti bom bunuh diri atau menabrakkan produk sains, seperti pesawat terbang, ke gedung bertingkat. Tapi sains tidak akan pernah mau menerima tujuan jahat ini. Semua paper ilmiah tidak akan menulis dalam bagian Manfaat Penelitiannya yaitu untuk menghancurkan negara/agama/ras/gender tertentu. Tapi akan hampir selalu ditemukan kalau bagian Manfaat Penulisan bertujuan untuk memajukan kesejahteraan, baik dalam penemuan obat baru, teknologi baru atau hal lainnya. Sisanya kadang menambahkan ajakan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Tuhan bukan bagian dari Sains

Sains bersifat materialistik dan naturalistik. Sesuatu yang tidak dapat dibuktikan ada atau tidak ada secara prinsip, seperti tuhan, tidak dapat digunakan sebagai penjelasan. Sebagai contoh, saat hujan turun, sains tidak akan menerima penjelasan kalau hujan turun disebabkan oleh rahmat tuhan. Sains akan mempelajari proses turunnya hujan tersebut, kenapa bisa turun dsb. Saat terjadi bencana alam, sains tidak menerima pernyataan kalau bencana disebabkan oleh amarah tuhan, tapi sains akan mencari penjelasan kenapa itu bisa terjadi secara alami seperti proses kejadiannya, sebab-sebab terjadinya dan kemudian memberikan saran untuk menghindari kejadian yang serupa terulang kembali.

Dengan adanya pemahaman sifat-sifat sains ini, saya harap pembaca dapat memposisikan dengan tepat antara keyakinan, mitos, otoritas, ramalan tokoh kharismatik dan sebagainya sebagai sumber pengetahuan. Sains adalah salah satu sumber pengetahuan manusia, dan selama ini, merupakan sumber yang terbaik.

Bibliografi

Angier, N. 2007. The Canon: A Whirligig Tour of the Beautiful Basics of Science. Houghton Miffin Harcourt
Banner, M.C. 1990. The Justification of Science and The Rationality of Religious Belief. Clarendon Press.
Brooke, J. H. 1991. Science and Religion : Some Historical Perspectives. Cambridge University Press
Chemla, K. 2004. History of Science, History of Text.
Gregorios, P. 1992. A Little Too Bright: The Enlightenment Today, An Assessment of the values of the European Enlightenment and a search for new foundations. SUNY Press
Griffin, D. R. 2000. Religion and Scientific Naturalism: Overcoming the Conflicts. SUNY Press.
Jevons, W.S. 1913. The Principles of Science: A treatise on logic and Scientific Method. Macmillan.
Korzybski, A. 1994. Science and Sanity: An Introduction to Non-Aristotelian Systems and General Semantics. Institute of General Semantics.
Starr, C., McMillan, B. 2008. Human Biology. Cengage Learning.
Sudarminta, J. 2002. Epistemologi Dasar, Pengantar ke Beberapa Masalah Filsafat dan Pengetahuan. Kanisius.
Wattimena, R.A.A. 2003. Filsafat dan Sains: Sebuah Pengantar. Grasindo.
Weyl, H., Wilczek, F. 2009. Philosophy of Mathematics and Natural Science. Princeton University Press.

Tuesday, May 27, 2014

Kalender Kosmos

Big Bang atau ledakan besar terciptanya semesta diperkirakan sekitar 15 milliar tahun lalu.  Mari kita andaikan bahwa umur semesta dari 15 milliar tahun lalu sampai sekarang menjadi hanya 1 tahun.  Skala 1 tahun = 15 miliar tahun.

1 bulan = 1,25 milliar tahun.
1 hari = 40 juta tahun
1 detik = 500 tahun

Mari kita mengingat selama satu tahun.  1 Januari, pukul 00.00.01 adalah Big Bang.  Dan baru sekitar bulan Mei, galaksi kita Galaksi Bima Sakti terbentuk, dan tata surya - tata surya terbentuk setelahnya sekitar Juni, Juli dan Agustus.  Dan pertengahan bulan September, kehidupan berupa sel baru mulai di bumi kita.

Manusia, manusia pertama baru hadir menit2 terakhir dari evolusi yang panjang, tepatnya sekitar tanggal 31 Desember pukul 22.30.  Dan 31 Desember pukul 23.45, hanya satu jam yg lalu setara dengan 2 juta tahun (waktu kosmik), manusia baru bisa membuat api.  Pukul 23.59.20 (Jam 11 malam, lebih 59 menit, lebih 20 detik), kecerdasan manusia baru mulai, manusia membuat alat dari batu.  Pukul 23.59.35 (25 detik terakhir), manusia hidup berkelompok.  Dan akhirnya negara, kerajaan, peradaban, filsafat, agama, muncul pukul 23.59.50, 10 detik terakhir.  Dan pukul 24.00.00, saya ngetik note ini.

Ternyata kita hanya hidup dengan mengetahui peradaban kita sendiri, 10 detik terakhir dari 1 tahun perjalanan kosmos ini.  Sungguh hanya sekejap, hanya beberapa kedipan mata. 

Kita manusia adalah warisan dari dari 15 milliar tahun perjalanan kosmik.  Apakah kita akan bertengkar memperebutkan kebenaran yg kita anggap paling benar yg hanya tercipta beberapa detik yg lalu dari 1 tahun perjalanan suka dukanya kosmik ini?

Pukul 24.00.01, 1 detik setelah sekarang ini adalah tanggung jawab kita, kita manfaatkan untuk lebih baik, atau kita menyia2kan dan menghancurkan warisan 1 tahun ini hanya dalam satu detik.

Damai selalu.Bali Great Travel

Saturday, December 06, 2008

Apakah Yesus seorang Yogi?

Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas "Apakah Yesus seorang Yogi?", kita mesti tahu dulu bagaimana kondisi spiritual seorang Yogi. Seorang Yogi harus bersih, suci, tak ternoda, rela berkorban dan benar2 menguasai dirinya. Juga rendah hati, sederhana, pemaaf, mengutamakan kebenaran, teguh pada tujuan harus dimiliki seorang Yogi. Pikiran seorang Yogi harus tidak terikat oleh objek indera atau kesenangan indera. Dia harus bebas dari sifat egois, sombong, angkuh dan ambisi dunia. Dia melihat kesementaraan kehidupan dunia yang penomenal merefleksikan penderitaan, kesengsaraan, kesedihan, penyakit sebagai keberadaan hal dunia yang alami. Dia harus terlepas dari pengaruh keduniawian yang menghasilkan kepuasan indera, dan mengatasi semua godaan dunia yang sangat kuat.

Seorang Yogi tidak merasa senang bila dipuji, dan tidak merasa sedih bila dimaki. Dia tidak diikat oleh ikatan keluarga. Dia tidak mengklaim bahwa ini istrinya atau itu anak2nya, tapi dia menyadari bahwa setiap jiwa adalah anak dari kebahagian dan milik dari keabadian. Dia memutuskan semua hubungan kekerabatan dan relativitas keduniawian, sehingga dia benar2 mencapai kebebasan. Seorang Yogi harus selalu berada dalam kondisi ketenangan hati walau dalam kesenangan atau kesedihan, berada melampaui kebenaran dan kejahatan, tidak terganggu oleh kesuksesan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, yang bisa terjadi pada dia atas akibat dari kelakuan tubuh dan pikiran.

Seorang Yogi harus kuat dan teguh dalam pengabdian kepada jiwa yang tertinggi, jiwa yang maha kuasa dan mahatahu atas jiwa2 kita. Dan menyadari bahwa tubuh dan pikiran ini adalah tempat bermain dari jiwa2 yang kekal, dia harus mengorbankan kehidupan pribadinya untuk universal, siap bekerja untuk orang lain, hidup untuk orang lain, matipun untuk orang lain. Semua tingkah lakunya, semasih berada dalam kehidupan sosial dipersembahkan untuk dunia dan kemanusiaan, tapi pada tiba saatnya, dia harus pergi ketempat terpencil dan sepi untuk hidup menyendiri, terus menerus menyembahkan pikiran kepada kebijaksanaan spiritual tertinggi sehingga tercapai tingkat diatas kesadaran, dengan meditasi untuk menyatukan jiwa individu dengan Tuhan/jiwa universal.

Seorang Yogi melihat sifat ke-Tuhanan yang sama pada setiap mahluk, dia mencintai semua mahluk secara adil, dia tidak memiliki teman juga musuh. Seorang Yogi diterangi oleh sinar ke-Tuhanan, sehingga gak ada hal yang tidak dia ketahui. Ruang dan waktu tidak bisa membatasi pegetahuan dan kebijaksanaanya. Kejadian masa lalu dan masa depan terlihat nyata didepan matanya. Baginya, sinar ke-Tuhanannya telah menghapus kegelapan dan kebodohan yang menghalang2i pencapaian kesadaran jiwa, dan membuat keangkuhan, kejahatan dan dosa. Dia menguasai semua kekuatan jiwa dan spiritual. Semua yang dikatakannya adalah benar. Dia tidak pernah berkata yang menyakitkan. Jika dia berucap kepada orang yang menderita "Jadilah!" seketika hilanglah penderitaanya.

Kekuatan seorang Yogi tidak terbatas, tidak ada yang tidak bisa dia kerjakan di dunia ini. Sebenarnya dia memiliki akses pada segala kekuatan, tapi dia tidak memanfaatkannya hanya untuk memuaskan rasa penasaran orang, pemuasan keegoan, pencapaian harta dan ketenaran, atau mendapatkan hasil dunia apapun. Dia tidak pernah mencari kekayaan dunia, dan selalu untuk tidak memikirkan hasil dari apa yang dia kerjakan. Pujian dan celaan tidak bisa mengganggu kedamaian pikirannya. Roh2 malaikat dan roh2 leluhur dengan senang hati memuja keberadaanya, semua menyembahnya. Tidak memiliki rumah dan barang2 apapun, dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, langit surga adalah atap rumah dunianya. Dia dengan mudah disenangi oleh setiap orang dari berbagai macam kasta, suku, kepercayaan, kebangsaan. Dengan penuh cinta, dia memberkati semua orang bahkan orang2 yang mencela dan memakinya. Jika tubuhnya disiksa, dianiaya bahkan dipotong2pun, dia tidak akan membalas, bahkan dia akan mendoakan keselamatan bagi orang yang menyiksanya tersebut. Demikianlah sifat dan karakter seorang yang benar2 Yogi.

Penjelasan2 penting tentang kehidupan Yesus tidaklah kita mengetahui, karena Dia tidak meninggalkan penjelasan2 sistematis tentang bagaimana Dia mencapai kesadaran Tuhan, karena tidaklah mungkin kita menelusuri apa yang Dia lakukan selama 18 tahun sebelum Dia muncul ke publik. Sangatlah sulit mengetahui metode/konsep/jalan yang bagaimana Dia pakai. Bisa kita bayangkan, terlahir dengan kecendrungan spiritual yang berkembang secara tidak lazim, Dia pasti memberikan waktu dan hidupnya untuk itu, sehingga mengantarkan-Nya menjadi salah satu pemimpin2 spiritual besar dunia bahkan Sang penyelamat umat manusia yang adil.
India adalah satu2nya negara dimana tidak hanya sistem praktek spiritual yang lengkap bisa ditemukan, tapi juga metode yang sempurna. Dengan mengikuti guru yang tepat akan bisa mencapai kekristusan, spiritual murni atau pencerahan Tuhan, yang membuat Yesus dari Nazareth menjadi salah satu orang di dunia yang ideal dengan kesempurnaan spiritual. Dengan mempelajari kehidupan, tingkah laku dan ilmu pengetahuan yang paling sistematis dan saintis dari Yogi2 ternama di India, dan dengan mengikuti contoh dan persepsinya, seorang murid yang serius akan bisa, melalui praktek yoga yang merupakan bermacam2 cabang dari filsafat Wedanta, akan bisa mencapai sesempurna Yesus anak Tuhan. Keyakinan ini harus jadi pendorong dan penghibur kepada jiwa yang sedang berjuang dalam mencapai kesempurnaan spiritual di dunia ini.
Satu hal, bagaimanapun, ajaran dari yogi2 di India yang didapat dari kesempurnaan spiritual adalah tujuan akhir bagi semua, maka setiap jiwa, cepat atau lambat, akan tertuju kepada kesempurnaan bahkan sesempurna kristus. Mereka menyatakan bahwa kebenaran dan hukum spiritual sama2 bersifat universal seperti kebenaran dan hukum di dunia nyata ini, sehingga kebenaran2 ini tidak dibatasi oleh waktu, tempat, keadaan. Akibatnya, dengan mempelajari yoga, seorang akan dengan mudah mengerti hukum dan prinsip yang lebih tinggi, dengan itu akan terungkap misteri yang berhubungan dengan kehidupan2 dan tingkah laku2 dari orang2 suci, atau inkarnasi Tuhan seperti Khrisna, Budha, Yesus.
Pencari kebenaran sejati tidak terbatas studinya hanya pada satu contoh, tapi juga melihat kesamaan2 kejadian kehidupan dari orang2 besar, dan tidak akan menarik kesimpulan sebelum menemukan hukum universal yang menguasai umat manusia. Contoh, Yesus Kristus bersabda: “Aku dan Bapaku adalah satu”, apakah hanya Dia saja yang berkata seperti itu ataukah banyak orang yang berkata seperti itu, baik yang sebelum Dia atupun sesudah Dia, dimana mereka tidak tahu/tidak pernah mendengar tentang apa yang dikatakan Yesus, apalagi yang hidup sebelum Dia?. Khrisna yang hidup jauh sebelum Yesus bersabda: “Aku adalah raja semesta”, Budha bersabda: “Aku adalah kebenaran hakiki”, Sufi Islam berkata: “Aku adalah Dia”, para yogi berucap: “Aku adalah Brahman (Tuhan)”. Sepanjang kita tidak mengerti prinsip2 dari ungkapan2 tersebut diatas, akan sangat terasa misterius bagi kita, dan kita tidak memahami arti sebenarnya, tapi jika kita telah menyadari keberadaan sebenarnya dari jiwa individu dan hubungannya dengan jiwa universal, atau Tuhan, atau Bapa di Sorga, atau kebenaran hakiki, berarti kita telah mempelajari prinsip dari ungkapan2 tersebut, dan tidak ada misteri sedikitpun. Kita, lalu, pasti siapapun yang mencapai keadaan penyatuan spiritual, kesadaran Tuhan akan mengexpresikan hal2 yang mirip pada cara pemikiran dan tingkah laku dan kebiasaannya. Maka, jika kita ingin mengerti tentang sifat2 dan keajaiban2 dari kehidupan Yesus dari Nazareth, sudah terungkap kepastian kepada kita, bahwa Dia mempelajari yoga dan mempraktekan metode2nya.
Ilmu tentang yoga yang telah dinyatakan sebelumnya, menjelaskan semua misteri, mengungkap penyebab2 keajaiban, menerangkan hukum2 yang menguasai mereka. Ini juga bisa membantu kita untuk menguraikan rahasia alam, mengungkapkan asal usul penomena itu, yang disebut dengan keajaiban. Semua keajaiban2 seperti berjalan diatas air, mencukupi makan kepada banyak orang dengan bahan makanan yang sedikit, bahkan menghidupkan orang mati seperti yang kita baca dalam kehidupan Yesus dijelaskan oleh para yogi sebagai manifestasi dari kekuatan yang didapat dari praktek yoga yang lama. Kekuatan2 ini tidaklah sakti/gaib, tapi ini sangat alami, dikendalikan oleh hukum alam. Jika hukum2 ini dimengerti, dimana biasanya disebut keajaiban oleh orang2 bodoh, akan nampak seperti sesuatu hasil alami yang digerakan oleh kekuatan super, dari tempat yang super.
Tidak ada yang benar2 gaib, jika konsep seseorang terhadap alam sangat terbatas, akan nampak seperti kegaiban, tapi orang yang mempunyai konsep alam yang luas, hal yang sama akan nampak seperti kesempurnaan alami. Jadi keajaiban2 atau tingkah laku tertentu yang dianggap ajaib bagi Kristen, bisa dijelaskan oleh yogi sebagai hasil dari kekuatan yang lebih tinggi atau lebih baik dari alam. Kenapa? karena konsep alam seorang yogi jauh lebih luas dari orang biasa. Kita tidak boleh lupa bahwa alam itu tidak terbatas, didalam lingkaran ada lingkaran, diluar tingkatan ada tingkatan, sebagi pengetahuan yang tak terbatas. Dan keinginan seorang yogi adalah untuk mempelajari semua hukum2 dari segala bidang, dan mempelajari setiap manifestasi kekuatan, baik yang halus ataupun yang kasar. Pikirannya tidak terpuaskan oleh pengetahuan hanya satu bidang, tujuannya untuk mengungkap semua semesta alam.
Mereka yang telah membaca riwayat hidup Budha, oleh Paul Carus, akan ingat bahwa 500 tahun sebelum Yesus Kristus lahir, Sariputta, murid Budha yang termasyur, berjalan di atas permukaan air sungai Shravasti yang deras. Hal serupa juga bisa kita temukan dari kehidupan Padmapada, murid Shangkaracharya, exponen filsafat Wedanta terbaik yang hidup kira2 600AD. Khrisna, Hindu Kristus, juga disebut raja dari para yogi, menghidupkan orang mati, jauh sebelum kelahiran Yesus. Penjelmaan Khrisna dijelaskan dengan indah di bab 10 dan 11 dari Bagawad Gita, seperti halnya Yesus, Dia memberikan makan kepada banyak orang dengan bahan makanan yang sangat sedikit.
Ada beberapa contoh kekuatan2 serupa lagi yang ditunjukan oleh yogi2 besar yang lahir setelahnya. Bisa kita lihat keajaiban2 yang ditunjukan oleh Yesus banyak kita temukan juga pada kehidupan yogi2 Hindu, baik sebelum maupun sesudah-Nya.
Sepanjang suatu kejadian yang tumben terjadi, akan kelihatan gaib dan ajaib, tapi jika kita melihat kejadian yang sama terjadi di lain tempat dengan kondisi yang serupa, ini akan diasumsikan sebagai aspek kejadian alami, dikendalikan oleh hukum alam, terus datang solusi yang tepat terhadap misteri tersebut bahkan penjelasan rasional terhadap apa yang disebut keajaiban itu. Dengan ilmu yoga akan membantu mengungkap rahasia alam dan menjelaskan sebab2 kejadian2 atau tingkahlaku2 yang ajaib/aneh/gaib. Seorang Yogi sejati pergi ke sumber kekuatan dari seluruh kekuatan, mempelajari hukum2nya, dan mempelajari metode untuk mengkontrolnya. Dia tahu bahwa kekuatan alam yang bermacam2 hanyalah expresi dari satu kekuatan yang universal, hidup, energi pikiran, yang dalam bahasa sansekerta disebut Prana. Dia melihat kekuatan fisik alam seperti panas, gravitasi, listrik dan juga semua kekuatan mental seperti pikiran, akal, nalar hanyalah satu kekuatan hidup yaitu Prana. Intelegensi energy proyek dari matahari2, bulan2, bintang2 dan planet2 yang tak terhitung jumlahnya dalam bentuk angkasa. Menghempaskan bumi ini dari cairan tungku matahari, didinginkan oleh udara, dimandikan oleh air, dan diberi pakaian tumbuh2an dan kehidupan binatang, disayapi langit oleh awan, dibentangkan bidang2nya oleh sungai2. Dibentuk menjadi suatu yang besar dan kasar, dipindahkan inti2nya, diberikan kehidupan dan gerakan pada setiap atom dan molekul, dan pada saat yang sama dimanifestasikan sebagai akal dan pikiran (prana).
Kenapa tidak mungkin bagi seorang yang telah menyadari penyatuannya dengan sumber dari segala kekuatan, yang telah mempelajari untuk mengkontrol semua penomena dengan memahami hukum2 yang mengendalikannya dan yang telah menjadi raja dari dunia seperti Yesus Kristus, untuk menunjukan penomena sederhana seperti berjalan diatas permukaan air ataou menghidupkan orang mati?. Menurut yogi sejati, aksi2 Yesus Kristus hanyalah sedikit expresi dari kekuatan yoga, seperti yang telah dipraktekan oleh yogi2 di India. Jadi kita mengerti bahwa Yesus adalah salah satu yogi sejati yang lahir di keluarga semitik.
Yesus adalah seorang Yogi yang besar, karena Dia menyadari ketidak kekalan dan kesementaraan alam dari penomena dunia, dan dapat membedakan yang nyata dari yang tidak nyata, melepaskan semua tujuan keduniawian dan kesenangan duniawi. Seperti yogi2 pada umumnya, Dia hidup di tempat terpencil, memutuskan semua hubungan dunia seperti teman dan kerabat, dan hidup dengan tidak memiliki rumah dan barang kepunyaan apapun.
Yesus adalah seorang Karma Yogi sejati, karena Dia bekerja tidak pernah mengharapkan hasil dari pekerjaanya, tidak punya keinginan untuk ambisi ketenaran, tidak pula untuk kekayaan duniawi. Dia bekerja hanyalah dipersembahkan untuk dunia, Dia berbuat untuk orang lain, mempersembahkan semua hidupnya untuk membantu orang lain dan akhirnya matipun untuk orang lain. Tidak terikat kepada hasil dari perbuatannya, secara terus menerus menuntun orang2 menuju jalan kebenaran dan kesadaran spiritual dengan pelepasan ikatan keegoan. Dia mengerti hukum sebab akibat, yang merupakan prinsip dasar dari karma yoga, sehingga menjadikan alasan Dia bersabda: “Apapun yang km kerjakan, itulah yang kamu petik hasilnya”.
Yesus dari Nazareth membuktikan diri-Nya sebagai bakti yogi, pencinta Tuhan sejati, dengan baktiNya yang teguh dan cintaNya yang tulus kepada Bapa di Sorga, doaNya yang terus menerus, permohonanNya yang tiada henti, selalu bermeditasi, dengan tabah selalu memuja Tuhan membuat Dia bersinar seperti bintang pagi yang terang di langit cinta seorang bakti yogi. Yesus menunjukan pengendalian diri dan pikiranNya melalui berbagai macam cobaan, godaan dan penderitaan. Dia menderita dan menyerahan diri pada saat kematianNya sebelum penyaliban, itu jelas membuktikan bahwa Dia adalah seorang manusia yang memiliki kwalitas Tuhan menghiasi jiwanya sebagai bakti yogi sejati. Memang benar jiwaNya berupaya keras sesaat dibawah beban berat cobaan dan penderitaan, dan juga benar Dia merasakan penderitaanNya menjadi tak tertahankan, ketika Dia menangis dengan keras tiga kali, dan berdoa kepada Bapa di Sorga: “O Bapa, jika mungkin, biarkanlah cangkir ini terlepas dari Aku”, Dia belum menemukan kedamaian dan kebahagiaan sampai akhirnya Dia bisa menguasai kehendaknya menuju Bapa sembari berkata dalam hati “semua akan selesai”. Penyerahan diri dan kepasrahan diri adalah prinsip dasar bakti yoga, dan Yesus memilikinya dan disempurnakan pada saat akhir hidupNya, Dia benar2 seorang bakti yogi.
Seperti raja yogi di India, Yesus tahu rahasia perbedaan jiwa dan tubuh, dan Dia tunjukan ini juga pada saat kematianNya. Saat tubuhnya menderita oleh siksaan yang hebat, dengan berkata “Bapa, maafkan mereka karena tidak mengetahui apa yang mereka lakukan”, ini hal yang tidak biasa seseorang memohonkan maaf untuk penyiksanya, saat sedang di salib. Tapi dalam pandangan para yogi, ini hal yang biasa dan alami. Ramakhrisna, seorang yogi sejati abad 19, kehidupannya dan ucapan2nya telah ditulis oleh Max Muller, ketika pernah ditanya “Bagaimana bisa Yesus mendoakan penyiksanya, ketika Dia menderita di tiang salib?”. Ramakhrisna menjawab dengan perumpamaan, jika batok kelapa muda ditusuk, paku penusuknya akan mengenai daging kelapanya juga. Lain halnya dengan kelapa yang sudah kering, dagingnya terpisah dengan batoknya, jadi ketika batoknya ditusuk, tidak akan mengenai dagingnya. Yesus seperti kelapa kering, jiwa yang didalamnya terpisah dengan batok tubuhnya, jadi penderitaan dari tubuh tidak mempengaruhiNya, sehingga Dia bisa mendoakan pengampunan untuk penyiksanya walau tubuhnya dalam penyiksaan, dan semua yogi sejati bisa melakukan hal yang sama. Ada banyak contoh dari para yogi dimana tubuhnya dicingcang, tapi jiwanya sedikitpun tidak lepas dari kedamaian dan ketenangan seperti Yesus bisa memaafkan bahkan memberkati penyiksanya. Dengan ini Yesus membuktikan seperti yogi yang lain, bahwa jiwanya telah terlepas dari ikatan tubuh dan perasaan, maka oleh itu, Yesus adalah seorang Yogi.
Melalu jalan bakti dan cinta, Yesus telah mencapai kesadaran bersatunya jiwa individu dengan Bapa/jiwa universal, dimana idaman bagi jnana yogi juga sebagai tujuan akhir dari semua agama. Seorang jnana yogi berkata: “Aku adalah Dia”, “Aku adalah Brahman”, “Aku adalah kebenaran hakiki”, “Aku adalah satu dengan raja diatas sana”. Melalui, perbuatan baik, bakti, cinta, konsentrasi, contemplasi, puasa dan berdoa, Yesus Kristus menyadari bahwa jiwaNya adalah satu dengan Tuhan, maka Dia telah mencapai tujuan dari jnana yoga.
Seperti Khrisna, Budha dan yogi2 di India, Yesus menyembuhkan orang sakit, membuat orang buta bisa melihat, orang pincang bisa berjalan, dan membaca rahasia pikiran murid2Nya, Dia tahu pasti apa yang Judas dan Peter akan lakukan, tapi tidaka ada yang bersifat gaib dari semua itu. Tidak ada yang tidak bisa dikerjakan oleh seorang yogi sejati, dan tidak ada yang tidak bisa dijelaskan dari semua itu oleh ilmu yoga dan filsafat wedanta. Tanpa dibantu oleh ilmu dan filsafat ini, Yesus tidak akan bisa dimengerti dan dihargai. Dengan mempelajari sifat2Nya, dengan kata lain sinar dari filsafat Weda, kita akan bisa bukan hanya mengerti Dia dengan baik tapi juga bisa lebih menghargai keagunganNya.
Ilmu sains mungkin mengejek keajaibannya, tapi bisa dikuatkan oleh ilmu yoga, dan diconfirmasikan oleh kelakuan yogi2 India. Tidak perlu takut orang2 kristen kepada ilmu sains akan merongrong keberadaan Yesus, sepanjang ada ilmu yoga yang akan mempertahankanNya. Biarlah dia mempelajari sifat2 Yesus melalui filsafat Weda/Wedanta. Dan saya yakin dia akan memahami Yesus lebih baik dan menjadi Kristen yang benar, murid Yesus Anak Tuhan yang lebih baik dari sebelumnya. Biarkan dia mengikuti ajaran Yoga dan suatu saat dia akan menjadi sempurna seperti Yesus Kristus.
Melalui ajaran Wedanta, orang2 Hindu telah belajar bagaimana memuja sifat2 Yesus, juga melalui Wedanta pula orang2 Kristen akan belajar menghargai yogi sejati seperti Khrisna, Budha, Ramakhrisna dan lainnya. Melalui Wedanta pula Kristen bisa melihat sifat2 keTuhanan yang bersemayam disetiap mahluk dan benda di dunia ini. Memahami hubungan jiwa individu dan jiwa universal, dan bisa mengatakan hal yang sama seperti Yesus Kristus: “Aku dan Bapa adalah satu”, dan mendapat penyelamatan dalam hidup ini.
Semoga damai selalu.